Category: Publikasi

Mengagas Hukum yang Nyaman

(Disampaikan Didalam Diskusi IKEM Jilid I Eksplorasi Nilai)

Oleh: Ronald Reagen[1]

RRMendirikan Negara hukum tidak sama dengan memancangkan sebuah papan nama dan sim salabim semua selesai. Itu baru awal dari pekerjaan besar membangun sebuah proyek raksasa yang bernama Negara hukum. Tanpa memahaminya sebagai demikian, kita akan mengalami kekecewaan, bahkan mungkin rasa frustasi. Disebut proyek raksasa, oleh karena yang kita hadapi adalah sebuah pekerjaan yang melibatkan begitu banyak sector kehidupan, Read More: Mengagas Hukum yang Nyaman

 

Riwayat Tanah Perkebunan Warga Kota Padang yang Terkena Proyek Transmigrasi dan rencana Perkebunan Sawit oleh Dinas Perkebunan dan Dinas Kehutanan dan Dinas Transmigrasi Kabupaten Rejang Lebong

Di Susun oleh Ronald Reagen

SS851246Sepanjang tahun 1970 sd 1986 lahan ini dimiliki warga dan diakui hak kepemilikannya berdasarkan aturan adat marga (setingkat camat). Sebagai gambaran terlihat dalam bukti transaksi jual beli lahan tahun 1970 tentang pemindahan hak atas tanah dalam lahan eks HGU BMS dari Pak Abdul Hadi kepada pak Rabani yang diketahui petugas marga bidang pertahanan yang disebut pembarab.

Pada tahun 1987 pemerintah memberi izin HGU Perkebunan kepada PT BMS di lahan yang disengketakan saat ini. Selanjutnya pada tahun 1987 Pemda Rejang Lebong dibantu aparat keamanan membebaskan lahan masyarakat seluas 1840 ha (bukan 6925 ha seperti dalam peta dan izin HGU yang diberikan). Menurut warga dalam proses pembebasan lahan banyak dilakukan secara paksa dan tanpa diberitahu kepada pemilik lahan. Seperti yang dialami oleh Bapak Ayang warga Durian Emas dimana tanahnya di data tanpa sepengetahuannya. Pembebasan lahan hanya dilakukan dengan ganti rugi Tanam Tumbuh (bukan harga tanah) senilai 10.000 sampai 25.000 tanpa ada kesepakatan harga  dengan pemilik, bahkan ada dengan cara paksa dan intimidasi. Pada tahun 1988 Bapak Ruslan warga Sukamerindu dan beberapa warga yang mempertahankan hak tanahnya namun dianggap melawan hukum sehingga di tangkap, diproses dan dipenjara selama 1 (satu) tahun kurungan.

Selama tahun 1987 sd 1993 PT. BMS mengelola perkebunan kakau seluas 1200 Ha dan mulai tahun 1994 lahan mulai ditelantarkan menjadi belukar. Baru pada tahun 1998 sampai tahun 2002 secara bertahap warga memasuki kembali lahan eks HGU PT. BMS untuk berkebun kopi, Karet, Duria, Petai dan lain-lain hingga saat ini.

Pada tanggal 2 juni 2000 HGU PT. BMS dicabut berdasarkan SK. BPN No. : 11-VIII/2000 atas usul Gubernur Propinsi Bengkulu.

Pada bulan Juni 2002 Pengelolaan, Pengaturan, Penguasaan dan penggunaan tanah eks HGU PT. BMS diserahkan kepada pemerintah Kabupaten Rejang Lebong berdasarkan SK Gubernur Bengkulu Nomor 286 tahun 2002.

Selama bulan Agustus – Desember 2006 pihak pemerintah daerah Kabupaten Rejang Lebong melakukan pembangunan rumah bagi 150 KK transmigrasi. Pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong akan menambah transmigrasi sebanyak 150 KK dan 250 KK.

Kronologis Kasus

Sengketa tanah warga kecamatan kota Padang Kabupaten Rejang Lebong dengan Dinas transmigrasi. Sengketa ini muncul ketika adanya kebujakan Pemda Kabupaten Rejang Lebong untuk mengalihfungsikan  sebagai lahan HGU eks Perusahaan Perkebunan Kakau PT. Bumi Megah Sentosa di Desa libuk Mumpo Kecamatan Kota Padang dan rencana investasi baru perusahaan  perkebunan sawit PT. SILO dalam lahan HGU yang sama, ternyata pada areal tersebut sudah ada perkebunan kopi, karet, durian, petai dan lain-lain milik masyarakat yang berusia rata-rata lebih dari 5 tahun. Data sementara ada 414 KK dengan 1678 jiwa yang hidup dari berkebun dalam lokasi lahan sengketa seluas 729 Ha.

Selam bulan Agustus – November 2006 pihak transmigrasi mulai melakukan penggusuran lahan dengan dengan menggunakan alat berat/Buldozer untuk lahan perumahan 150 KK Transmigrasi (75 Tran Lokal dan 75 KK dari Pulau Jawa) dan badan jalan seluas 50 ha diatas lahan perkebunan  masyarakat. Menurut pengakuan warga yang ada yang berkebun dilahan tersebut, lahan mereka di Buldozer tanpa ada sosialisasi ataupun pemberitahuan terlebih dahulu. Misalnya Kebun Kopi dan Karet Bpk. SIDI warga Lubuk Mumpo seluas 2 ha dibuldozer secara paksa, kebun kopi dan pondok Bpk. Bahktiar warga desa Sukamerindu seluas 1,5 ha di bulldozer pada malam hari dan bapak Rozak yang juga memiliki lahan diareal tersebut berusaha menemui pegawai Kecamatan untuk menyampaikan keberatannya namun justru dipaksa meninggalkan lokasi selam 3 x 24 jam oleh oknum pegawai Kecamatan Kota Padang (Bpk. Herlantoni).

Pada tanggal 2 Desember 2006 Bpk. Rozak melayangkan surat kepada menteri tenaga kerja dan transmigrasi, kepada gubernur Propinsi Bengkulu, Kepala Dinas Propinsi Bengkulu, Bupati Rejang Lebong tentang keberatan warga yang lahannya digusur menjadi lahan transmigrasi namun tidak ditanggapi.

Selanjutnya atas permintaan warga yang berkebun dilahan eks PT. BMS maka pada tanggal 10 Januari 2007 LPMAL – KALAM, Aliansi Masyarakat Adat Lembak dan Persatuan Kelompok Tani Rejang Lebong (PKT-RL) memfasilitasi pertemuan korban dan calon korban (130 KK) untuk mengidentifikasi peta persoalan yang diahadapi dan merumuskan langkah-langkah resolusi. Pertemuan dilakukan di halaman perkebunan kopi dekat pemukiman tran yang baru dibangun oleh instansi transmigrasi.

Pada tanggal 10 Februari 2007 telah turun kelapangan tim yang terdiri dari 2 orang petugas Kecamatan Kota Padang dibantu oleh oknum TNI 8 Orang dan polisi 5 orang akan melaksanakan penggusuran lahan untuk 150 KK transmigrasi yang sudah ditetapkan. Namun setelah mereka melihat situasi dilapangan maka penggusuran dibatalakan.

Pada tanggal 16 Februari 2007 camat mengumpulkan tanda tangan mantan Kades dan Kades 7 Desa diluar lokasi sasaran transmigrasi dalam kegiatan MUNSRENBANG Kecamatan Kota Padang untuk menggalang dukungan rencana proyek transmigrasi dan perkebunan.

Untuk diketahui akan ada rencana penggusuran lagi tahun 2007 seluas 50 ha untuk pemukiman 150 KK transmigrasi tersebut diatas lahan kebun kopi, karet, petai, durian dan lain-lain yang dikelola warga saat ini yang diklaim pemerintah sebagai lahan eks HGU PT. BMS.

 

Gambaran umum Tentang Agitasi dan Propaganda (1)

Oleh: Ronald Reagen.

4611_1062476094593_1606681131_30195524_6492295_nDalam suatu kerangka perjuangan, kita seringkali mengalami kendala pada fase penyebarluasan permasalahan. Agar  masalah tersebut  tidak menjadi permasalahan satu kelompok saja akan tetapi menjadi permasalahan banyak orang atau sejumlah besar orang ( a mass  of people). Sehingga hal yang paling mendasar dialami dalam upaya mewujudkan perjuangan dalam mendesak suatu perubahan terhadap permasalahan tertentu adalah kepiawaian suatu kelompok dalam menyajiikan sesuatu hal ke banyak orang agar orang terlibat secara emosi dan pikiran terhadap suatu permasalahan.

Ground effeck dari semua ini adalah demi mendesak keterlibatan sejumlah massa terhadap keinginan yang diarahkan oleh massa actor, dalam upaya mewujudkan suatu cita-cita, suatu bentuk perlawanan, atau suatu bentuk kehendak untuk memaksa sejumlah besar orang untuk merasakan suatu permasalahan. Maka upaya-upaya untuk melibatkan sejumlah besar orang terhadap satu permasalahan serta membuat  orang terpikat untuk mengikuti kehendak massa actor adalah dengan agitasi dan propaganda.

Apa itu agitasi dan propaganda?

  1. Agitasi

Menurut Wisnu mintargo Agitasi berasal dari bahasa Perancis yakni agister (kata kerja), berarti melakukan suatu gerakan oposisi yang umumnya dipergunakan pada suatu organisasi politik dengan maksud melemahkan lawan, sedangkan dalam tinjauan kritis kaum kiri Menurut kamus Oxford, mengagitasi adalah “membangkitkan perhatian (to excite) atau mendorong (stir it up)”,.

Agitasi memfokuskan diri pada sebuah isu aktual, berupaya ‘mendorong’ suatu tindakan terhadap isu tersebut  dengan proses menyajikan hanya satu atau sedikit gagasan, tetapi menyajikannya ke sejumlah besar orang (a mass of people)”(Plekhanove dalam Socialist Worker Review, No.68, Sep 1968, hlm.10, oleh Duncan Hallas.).

  1. Propaganda

Propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama  untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerima/komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator (Santosa Sastropoetro, Propaganda: Salah Satu Bentuk Komunikasi Massa, Bandung: Alumni, 1991, h. 34).

Dalam artian  propaganda adalah suatu bentuk konstruksi realitas, dimana dalam pembangunannya Propaganda berurusan dengan penjelasan gagasan-gagasan secara terinci dan lebih sistematis.

Seorang Marxis perintis di Rusia, Plekhanov, menunjukkan sebuah konsekuensi yang penting dari pembedaan ini. “Seorang propagandis menyajikan banyak gagasan ke satu atau sedikit orang; seorang agitator menyajikan hanyasatu atau sedikit gagasan, tetapi menyajikannya ke sejumlah besar oranga dipenuhi unsure ideology.

Pembedaan yang paling mendasar menurut lenin adalah terdapat didalam unsure gagasan dan kuantitas massanya, kalau agitasi menyampaikan satu gagasan namun melibatkan banyak orang dan disampaikan ke banyak orang, sedangkan propaganda menyampaikan banyak gagasan, namuan gagasan yang banyak ini harus dipahami sebagai integral(satu kesatuan), disampaikan secara komparatif ke sedikit orang.

Banyak hal yang bisa digunakan dalam mengagitasi dan memepropaganda, misalnya melalui lagu, film, buku, novel,radio, televisi, lagu-lagu dan dalam bentuk komunikasi sederhana yang kita laksanakan dalam sehari-hari, berhubungan dengan media diatas.

Bisa disimpulkan bahwa agitasi dan propaganda adalah termasuk dalam kerangkan komunikasi yang bersifat massal, atau komunikasi massa, karena bentuk dan sasarannya adalah demi mempengaruhi opini umum.

Dalam men-agitasi dan mem-propaganda, hal dasar yang perlu disadari oleh pelaku adalah kesadaran akan arah perjuangan, sadar akan tinjauan ideology sadar akan dengan kebudayaan masyrakat beserta kondisi kekinian, sadar akan capaian-capaian yang digunakan serta sadar akan actor lain yang dilibatkan.

Banyak hal yang tidak bisa dibedakan dalam konsep agitasi dan propaganda, karena keduanya bias dilakukan sekaligus, salah satunya adalah, misalnya dengan pidato bung karno yang berapi-api, atau pidato bung tomo melalui radio yang menggerakkan arek-arek suroboyo, banyak yang mengangap hal ini adalah salah satu bentuk propaganda, namun jika dilihat dari aspek psikologi yang ditimbulkan, dimana orang yang mendengarkannya, menjadi ber-api-api, serta melahirkan emosi maka, penulis menganggap hal yang dilakukan oleh kedua tokoh ini adalah proses mengagitasi.

Akan tetapi dibalik semua itu, hal yang diinginkan dari proses mengagitasi dan propaganda adalah kejelasan akan tujuan, baik atau buruknya suatu tujuan.

Pada kasus-kasus tertentu, agitasi dan propaganda sangat berperan penting dalam menangkis serangan lawan, balik menyerang dan memperbaharui branding image, kita mampu melihat bagaimana di dalam mindcamf hitler yang menjadi semacam arus utama dalam merasionalisasikan kerja-kerja partai, dengan istilah yang dikenal dengan “bekerja tanpa beban” . kitapun bisa melihat bagaimana pengaruh media massa membelokkan persepsi awam dalam melihat permasalahan tokoh utama orde baru yakni soeharto dengan jalan memberitakan jasa-jasa nya, sehingga dengan jasa-jasa tersebut soeharto layak di gelari dengan gelar pahlawan, tentu pada kedua kasus tersebut kita bisa melihat proses balik menyerang dan memberikan tangkisan terhadap serangan musuh-musuh hitler dan musuh-musuh soeharto, sehingga proses pembalikan alam pikir awam ini akan menuai keuntungan di pihak yang selama ini merasa tersudutkan, konkritnya sampai hari ini, dosa-dosa soeharto tetap menjadi semacam rekaman sejarah sangat susah dilacak bukan?

Pada sisi lain proses agitasi dan propaganda ini selain digunakan sebagai pisau menyerang yang menjadi bagian penting dari strategi politik, hal ini juga menjadi alat utama dalam pencitraan produk-produk dalam proses perniagaan, seperti iklan-iklan produk, yang selalu menampilkan kebaikan produk-produknya.

Tentu alat utama dalam melakukan proses agitasi dan propaganda ini adalah media massa, baik itu Koran, radio, majalah,televise, ataupun media-media lain yang gampang di akses oleh orang lain, baik orang yang berada didalam komunitas maupun diluar  komunitas

  1. Penutup

Jadi sebagai penutup dari gambaran tentang agitasi pertama bagian 1 ini, hal yang perlu di ingat dari proses agitasi dan propaganda adalah: pertama yang berhubngan dengan permasalahan yang ingin disebarluaskan, kedua ada daya yang dilakukan untuk menghasut atau mempengaruhi, ketiga penggunaannya berdasarkan kebutuhan, ke empat ada media yang digunakan, kelima, ada sasaran yang diinginkan dan keenam ada proses evaluasi.

Dibalik semua hal yang telah dibicarakan diatas, yang terpenting dari keseluruhan proses ini adalah, pengalaman, bacaan serta proses improvisasi yang  terstruktur dalam menjalani proses. Selama kita giat dan mau menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan maka apapun namanya itu tetaplah unsure memepengaruhi akan trepenuhi dengan sendirinya, karena agitasi dan propaganda adalah sebatas bahasa, sebatas teori, tanpa sebuah tinajauan aplikatif semuanya akan Cuma menjadi pajangan intelektual yang beku (frozen intelectuality)…bersambung

Selamat berjuang dan selamat mempengaruhi…..!

Penulis Adalah Deputi Directur Akar Foundation

 

Di belakang jargon Neolib dan ekonomi kerakyatan

Oleh:Ronald Reagen

n1480735662_30302854_5967415Jargon politik yang dijadikan sebagai isu central dalam kampanye para kandidat capres dan cawapres memang selalu berubah dan cenderung pragmatig memperhatikan pertimbangan rasional masyarakat agar bisa di dimobilisasi demi penumpukan suara dalam upaya memenangkan pertarungan. Demikian halnya pada pilpres tahun 2009 ini. setiap pasangan kandidat capres dan cawapres masing-masing mengklaim dirinya paling anti neoliberal dan sangat pro dengan ekonomi kerakyatan.

Berdagang realita kemiskinan

Dalam temuan UNICEF, antara tahun 2004 sampai akhir tahun 2006, terjadi peningkatan jumlah balita yang mengidap gizi buruk di Indonesia. Dari 1,8 juta  jiwa di tahun 2004 menjadi 2,3 juta jiwa anak pada tahun 2005. Penganguran terbuka mencapai 10,55 juta orang pada tahun yang sama. Ditambah lagi ledakan kemiskinan yang pada tahun 2006 dengan segala indikatornya mencapai 128,94 juta orang (Global Justice Update/edisi 3/12/2008/) Tentu rasionalisasi pemerintah dalam merasionalkan data tersebut diatas, bisa saja dikarenakan oleh reason pluktuasi ekonomi dunia yang turun naik sehingga merambah ke sektor-sektor strategis dalam menghidupi rakyat.

Namun Jika data angka kemiskinan tersebut diatas dihubungkan dengan proses Pilpres yang sedang berlansung di Indonesia maka akan ditemukan korelasi antara realita kemiskinan diatas dan sedang  berlangsung di masyarakat dengan kedua jargon politik yang  menjadi centre isu yang dimainkan oleh masing-masing kandidat.

Korelasi ini ditemukan ketika, pertama; Akan muncul semacam realita namun bukanlah realita yang sebenarnya. Maksud dari  realita ini adalah bahwa benar hari ini mayoritas rakyat indonesia hidup dalam kemiskinan berjumlah 128,94 juta orang, namun bukanlah sebuah realita jika dihubungkan dengan keprihatinan para kandidat capres dan cawapres. Bentuk dramatisir kenyataan ini atas dasar momentum Pipres semata karena jika tidak ada Pilpres maka isu atau keprihatinan ini tidak akan ada..

kedua adalah mengingat pertarungan yang sedang terjadi bukanlah pertarungan dalam tataran ideologis, namun pertarungan yang sedang terjadi adalah benar-benar pertarungan yang berada dalam gelanggang pure politik praktis. Jika hal ini adalah pure pertarungan politik praktis maka akan berlaku adigium politik yang berbunyi ”tidak ada yang tidak bisa dalam politik ,tidak ada kawan atau teman abadi dalam politik,di dalam politik hanya ada keabadian kepentingan”. jadi ketika permasalahan kemiskinan diangkat dalam ruang kampanye dan menjadi isu central, tentu hal ini semata-mata demi transaksi lima tahunan antara para kandidat Capres dan cawapres dengat rakyat melalui pola barter, dimana rakyat yang hidup dalam ruang kemiskinan, dengan harapan suatu saat kesejahteraan itu nyata, menyerahkan hak suaranya untuk memilih dan sang kandidat memberikan harapan kesejahteraan.

Ketiga, anti Neoliberal yang didengungkan tidak mengakar sampai pada tahap penyelesaian masalah. Malahan pasar yang dijadikan kambing hitam dari semua friksi yang terjadi selama  ini yang menyangkut tentang penyebab kemiskinan rakyat. Tentu dengan mengkambing hitamkan pasar adalah suatu kesalahan besar. Tidak ada satupun sistem pemerintahan dengan karakter ideologi tertentu yang berada didunia ini yang tidak pro pasar. Cuma mereka membuat pasar itu lebih adaftip dengan kondisi kekhususan ckarakter ekonomi yang mereka anut. Salah satu contohnya adalah poros ultranasionalistilk (poros Kuba,Venezuela,Bolivia dan beberapa negara lain yang mulai merapat dengan poros ini) di kawasan amerika latin. Mereka memang cenderung memainkan pola ekonomi yang isolatif, namun pada dasarnya ketertutupan mereka ini demi menjaga pasar untuk tidak bergerak liar sehingga memakan korban dan menyebabkan kemiskinan bagi rakyat mereka.

Bandingkan dengan kondisi indonesia jika ingin membentuk pola yang serupa, kira-kira negara mana dalam kawasan asia tenggara ini yang sepakat dengan pola serupa seperti  yang dilakukan oleh poros ultranasionalistik di amerika latin? sedangkan kondisi sekarang saja masing-masing negara dalam kawasan asia tenggara memainkan egonya masing-masing. Contoh kasus pertarungan dalam memperebutkan blok ambalat antara Indonesia dengan Malaysia, atau Singapura yang memfasilitasi para koruptor untuk mencuci uang di negara mereka. Tentu akan sulit pola ini dilakukan, kecuali indonesia mau menggunakan cara lain dengan membuka poros dengan negara-negara timur tengah dengan menggunakan sentimen Islam. Maka akan jelas bagi kita sekarang atas dasar apa, sebenarnya peruntukan para kandidat capres dan cawapres dalam menggunakan jargon anti neoliberal dan pro ekonomi kerakyatan, selain dari sekedar berdagang realita kemiskinan rakyat demi meraih kemenangan

gamang terhadap realita

Jika dikatakan ekonomi kerakyatan adalah pembangunan ekonomi yang pro rakyat, maka pertanyaannya adalah rakyat yang mana dulu? Seorang pengusaha yang komprador sekalipun adalah rakyat, seorang koruptor baik yang berada didalam penjara ataupun diluar penjara pun tetap berhak dipangil rakyat. Lalu kemana sebenarnya issue pembangunan ekonomi kerakyatan ini pada dasarnya di proyeksikan?.

Hal inilah yang menjadi kegamangan awal dari ketiga pasang kandidat capres dan cawapres. Kegamangan ini lahir dari pengakuan secara terselubung  dari ketiga kandidat untuk mengakui bahwa rakyat yang mendiami negara ini memang miskin. Pengakuan terselubung inilah yang kemudian dijadikan semacam peluru untuk saling menyerang antar para kandidat. Bukan sekedar omong kosong, kalau pada saat ini hal-hal yang mencerminkan pembangunan ekonomi kerakyatan dari ketiga pasang calon belum berhasil mereka deskripsikan secara utuh.

Cerminan kerakyatan secara substansial dan utuh akan terlihat ketika, ketiga pasang kandidat benar-benar menjadikan issue ini bukan semata-mata berada di tengah pertarungan politik praktis, namun benar-benar menjadikannya semacam semangat baru yang ideologis mencerminkan nuansa ekonomi yang sosialis namun industrialis.

Cerminan ekonomi yang sosialis namun industrialis ini pernah diutarakan oleh Prof. Ine minara dalam dikusi FGD UI (10/12/2008). Menurutnya bahwa ”pembangunan industrialisasi pada dasarnya bukan sekedar transformasi ekonomi, melainkan sebuah transformasi sosial, dimana masyarakat ditransformasikan dari tahap atau keadaan pra industri ketika akumulasi modal per kapita itu rendah, ke tahap industrialisasi, perubahan ini erat kaitannya dengan penemuan teknologi,..” Maka bisa dikatakan dalam hal menuju ke pembanguna ekonomi maka akan terjadi semacam proses perubahan pola pikir rakyat tidak semata-mata berbicara tentang penumpukan modal namun memberikan akses lebih kepada rakyat agar mampu memiliki daya kreativitas  dalam pembangunan ekonomi.

Kegamangan kedua adalah, issue anti neolib dan pro ekonomi kerakyatan diarahkan pada pembangunan citra pasar yang cenderung kejam. Dalam tulisannya Faisal Basri yang berjudul ”hantu” neoliberal dan ekonomi kerakyatan, secara tersirat mengatakan, bahwa tidak layak jika pasar di persalahkan dalam kegagalan pembangunan ekonomi, karena menurutnya bahwa peran pasar secara hakiki adalah tempat transaksi, maka tidak ada yang bisa menolak kehadiran pasar. Cuma kesalahan terbesar bagi pemimpin ataupun calon pemimpin dinegara ini adalah salah dalam hal membuat regulasi. Sebagai regulator seharusnya pemerintah bisa membangun pasar yang kondusif, berkeadilan bagi rakyat dalam mengaksesnya.

Namun hal ini tidak pernah diutarakan oleh bagi para kandidat, baik itu bicara tentang strategi membangun pasar yang berkeadilan bagi masyarakat melalui perangkat regulasinya, maupun tentang pembangunan sistem JPS (jaringan Pengaman sosial) yang benar-benar layaknya dan mapan (seperti Jaminan Upah, layanan masyarakat miskin, layanan masyarakat jompo,dll). Karena mengingat setiap suatu saat ada pada kondisi tertentu, ketika pasar memiliki ekses yang negative, maka sistem JPS yang mapan sangatlah diperlukan (ini diluar konsep cash money and cash flow ala pemerintahan sekarang).

Kegamangan dalam bentuk lain adalah belum adanya deskripsi yang jelas, menyangkut masalah pemanfaatan seluruh sumber daya yang ada yang bisa dijadikan aset dalam membangun jejaring kesehatan masyarakat nasional dan ketersediaan sumber pangan murah bagi seluruh rakyat indonesia. Kegamangan ini dilanjutkan pada kegamangan dalam menentukan pilihan untuk tetap menjadi negara ”Pengekspor”hutang atau tidak. Karena jika secara tegas misalnya para kandidat menyatakan untuk stop mengekspor hutang, maka hal yang pertama adalah melakukan penguatan nasional, bisa jadi menasionalisasi saham-saham asing yang berada di BUMN dan mengefektifkannya untuk menjaga perekonomian negara. Lalu menyiapkan tameng jika terjadi resistensi oleh perusahaan multy nasional.

Dan kegamangan yang paling fatal adalah, gamang dalam mendeskripsikan bentuk pengelolaan yang berhubungan dengan sumber energi (gas bumi,batu bara, minyak bumi). Sampai pada tahap ini penulis melihat belum ada satu pasang kandidat pun yang secara tajam dan radikal dalam berfikir untuk mengelola SDA yang begitu besar ini. Sebagai catatan yang dikutip dari tulisan Salamuddin daeng salah seorang dari researcher-for institute global for justice yang berjudul ”Untung berlimpah di tengah antrian Gas”, sampai pada tahun 2005 indonesia adalah produsen gas terbesar dibandingkan dinegara asia oceania,Afrika dan seluruh 10 negar penghasil gas dunia. Tahun 2008 indonesia berada pada urutan ketujuh dari negara eksporter gas terbesar di dunia (British Geological Survey,2002-2006). Namun keuntungan dari pertambangan ini bukan dinikmati oleh rakyat indonesia namun oleh MNC (Multy National Corporation) yang bergerak dibidang pertambangan. Dari dataBank Inonesia tahun 2008, menyebutkan bahwa pada tahun 2007 saja, volume dan nilai eksport,LPG dan gas alam mencapai total 12,411,640 US dolar , dari sebanyak ini hasil eksport gas indonesia rakyat masih harus membeli dengan harga perusahaan, dan hitungan ini lebih mahal dari harga gas yang berada di luar negeri. Maka secara sadar negara ini mengeruk keuntungan dari rakyat nya sendiri yang notabenenya adalah trakyat miskin.

Jika benar para kandidat ini pro ekonomi kerakyatan maka sudah seharusnya ada semacam garansi bagi rakyat untuk mendapatkan kepastian bahwa sumber daya alam ini untuk rakyat. Tapi nyatanyakan tidak, sampai sekarang kegamangan ini tetap lah terjadi.maka sebagai rakyat perlulah kita berhati-hati dalam menetukan sikap untuk memilih siapa yang benar-benar pro akan ekonomi kerakyatan itu, masih ada beberapa hari lagi waktu yang tersedia bagi para kandidat untuk memaparkan apa itu ekonomi kerakyatan secara kongkrit menurut mereka. Sehingga rakyat tidak tertipu oleh jargon-jargon. karena betul kata Soe Hok Gie, bahwa slogan dan hypokrisi itu tidak menimbulkan patriotisme.Wallahualam….

 

Merajut impian dari kampung dan SMS pun telah terkirim..!!!

Oleh: Erwin Basrin

pak_salim_ahli_adat_rejang_3‘Ibarat SMS pesannya telah terkirim’ Demikian ungkap salah satu Bapak yang hadir dalam diskusi tentang Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dilaksanakan Akar di Desa Bajok. Read More: Merajut impian dari kampung dan SMS pun telah terkirim..!!!